Kasih Yang Tertunda
Gulungan air yang bergantian menerjang tepian. Sapuan ombak,
hembusan angin bersatu padu membuat gemuruh. Pinggiran pantai seketika riuh.
Lautan manusia berbondong-bondong bagai ayam berebut makan. Tapi tidak dengan
mereka berdua duduk berdua diatas butiran pasir. Layaknya pasangan yang sudah
lama meniti waktu demi waktu. Hembusan angin menghampiri mereka seketika
membuat suasana berubah romantis.
Sinar
mentari menghangatkan suasana. Tapi mereka tetap bersama, bagaikan pasangan
yang sudah bersama sekian lama, padahal baru bersama. Semua itu terjadi satu
bulan yang lalu ketika ada acara reuni SMA. Reza dan Naila dulu satu sekolah
namun keduanya berbeda kelas. Reza adalah murid XII IPA 1 dan Naila di kelas
XII bahasa 2. Reza dulu pernah suka pada Naila tapi mereka tidak saling kenal.
Ketertarikan Reza pada Naila bermula ketika sekolah mengadakan Class Meeting.
Reza melihat Naila untuk pertama kali dan entah kenapa hati Reza suka pada
Naila. Seiring berjalannya waktu sekolah sudah memasuki masa lulusan dan
perasaan Reza pada Naila tak kunjung juga terucap. Dan semuanya pergi, Naila
memutuskan untuk meneruskan kuliah di luar negeri dan Reza tetap berada di
dalam negeri untuk melanjutkan sekolahnya. Dan Reza pun terpaksa harus mengubur
perasaannya pada Naila.
Dan waktu pun berlalu, dan kini semua
seperti direncanakan. Naila yang bertepatan dengan liburan kuliah memutuskan
untuk pulang ke indonesia. Dan entah kenapa bertepatan pula dengan sekolah
mengadakan reuni.
“ Bagi alumni SMA
Perjuangan,
Lulusan tahun 2009
diundang untuk menghadiri acara reuni”
Begitu yang ditulis
oleh panitia. Dan Reza pun membaca info itu dari BBM miliknya.
“Mudah-mudahan ada
Naila” begitu angan Reza dalam hatinya.
Ketika hari yang ditunggu oleh Reza
datang. Reza pun menghadiri acara reuni tersebut dengan harapan dapat bertemu
dengan Naila. Reza pun begitu akrab dan bersalaman dengan teman-teman lamanya
dan mengobrol.
“ Nabila, Naila
datang nggak.?” Tanya Reza kepada Nabila. Nabila adalah teman kecilnya Reza dan
mereka sudah akrab sejak kecil. Dan Nabila juga teman akrabnya Naila waktu SMA
karena Nabila dulu satu kelas dengan Naila.
“Ciyee, kenapa lu
mau ungkapin perasaan lu ya.? “ Reza dulu sering cerita pada Nabila bahwa dia
suka pada Naila. Jadi Nabila tahu kenapa Reza mencari Naila.
“Apaan sih lu”
“Itu tu Naila ada
diujung ruangan “ jawab Nabila.
“Thanks ya, Nab !”
“hemm dasar lu”
Reza pun menghampiri
Naila diujung ruangan. Dengan perasaan malu dan gugup dia beranikan diri.
Sepertinya kali ini Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
“Hai, Naila ya? Apa
kabar?”
“iya benar,
Alhamdulilah baik ! “ jawab Naila.
“Gua dulu yang
sering diceritain Nabila, masih ingat gak?” tanya Reza pada Naila dengan
perasaan gugup.
“Emmm, owhh kamu
yang namanya Reza?” jawab Naila pada Reza dengan nada terkejut.
“Iya bener “
Mereka pun mengobrol
lama dan mereka saling bercanda dan tertawa dengan pembicaraan waktu SMA dulu.
Di sela-sela pembicaraan mereka pun saling bertukar nomor pin. Mereka seperti
sahabat akrab yang sudah lama bersama. Waktu berjalan begitu cepat sehinga
acara reuni itu pun berakhir. Mereka berdua pun harus berpisah pula. Seiring
dengan akhirnya acara reuni tersebut tapi malah menjadi awal cerita mereka
berdua.
“from : Reza
Nanti jam 9 gua jemput lu, gue mau
ajak lu ke pantai
GPL Nai “ Pesan BBM Reza pada
Naila.
“Nyebelin banget sih
Reza, ajak-ajak pergi tapi nggak diobrolin dulu denganku” gerutu Naila pada pesan Reza yang seenaknya
sendiri. Semenjak acara reuni berakhir mereka sering BBM-an dan sering keluar
bersama. Mereka sudah seperti sepasang kekasih. Tetapi, beda dengan pertemuan
kali ini. Karena hari ini adalah 3 hari sebelum Naila berangkat ke keluar
negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Dan Reza ingin bersama Naila seharian di
pantai untuk terakhir kalinya sebelum Naila berangkat.
“brum mbrumm” suara motor Reza yang
sudah datang di depan rumah Naila. Dan Naila pun sudah menunggunya sejak 5
menit yang lalu.
“lama banget sih
lu?” tanya Naila pada Reza.
“Yeee ini kan jam 9
tepat, jadi ini sesuai janji gue kan ?”
“iya sih, tapi gue
udah nunguin lu lama disini” keluh Naila pada Reza yang sebenarnya sudah
menunggu baru 5 menit.
“iya iya maaf.!! Ya
udah naik gih” jawab Reza pada Naila, Reza paling tidak suka kalau Naila sedih
dan cemberut. Dan Naila sering Reza semacam itu. Karena Naila suka wajah Reza
yang merasa bersalah.
“Ya udah jangan
diulangi lagi” jawab Naila.
Mereka pergi bersama
mengendarai motor matic. Sepanjang perjalanan mereka tertawa bersama
layaknSepanjang perjalanan mereka tertawa bersama layaknya kekasih. Dan Reza
hingga kini belum bercerita tentang perasaannya pada Naila.
Di pantai mereka duduk berdua di
pinggir pantai dengan mendengarkan lagu dari HP. Tiba-tiba Reza membuka
jaketnya dan dipakaikan pada Naila karena Naila terlihat kepanasan.
“ Apaan sih Rez?”
“udah deh nggak bisa
disembunyiin tau”
“emang kenapa aku?”
Tanya Naila sambil merasa kepanasan.
“Kepanasan kan elu,
makanya gue pakein jaket” jawab Reza.
“Nah, terus lu pake
apa? Kan ini panas” Tepis Naila.
“Gpp aku, lu kan
cewek kasian kalau kepanasan nanti sakit lagi”
“Aku gpp kok” tepis
Naila lagi.
“Nanti kalau sakit
siapa yang repot, gue kan ? pakai aja lah” Jawab Reza untuk menyakinkan Naila.
“Makasih ya Rez
“ Jawab Naila.
“hemmm “Jawab Reza
yang terdengar angkuh.
Mentari mulai mengusik dengan sinarnya.
Tapi mereka tetap bersama bagai pasangan yang tak akan ketemu lagi. Mereka
mulai mengangkat kaki berjalan bersama menantang ombak berlari bersama, tertawa
bersama. Sampai pada akhirnya Naila menantang Reza untuk menggendongnya.
“lu kuat gak ?” Tanya
Naila.
“Kenapa? Gue kuat,
lu gue gendong aja gua kuat kok”
“Beneran gue berat
loo “ jawab Naila.
“Kayak apa sih
beratnya cewek resek kayak lu?”
“Ya udah kalo emang
kuat coba gendong gue” tantang Naila.
Reza pun menggendong
Naila, padahal Reza sedikit merasa keberatan waktu menggendong Naila yang berat
badannya 10 kg melebihi berat badan Reza. Reza pun berlari ke tengah pantai
sambil menggendong Naila. Dan gulungan ombak mengenai tubuh mereka berdua.
Akhirnya kaki Reza pun basah dan Naila pun masih menempel di punggung Reza.
“Turunin gue Reza”
pinta Naila.
“Gak akan, hehe”
jawab Reza karena puas ngerjain Naila yang sebenarnya takut dengan ombak.
“Turunin Reza!!”
sambil megang erat Reza, Naila ketakukan karena dikerjai Reza.
“Berat banget sih
lu” akhirnya Reza menurunkan Naila yang sedang ketakutan.
Mereka berjalan beriringan dipnggir
pantai sambil bercanda dan tertawa. Hingga lama mereka dipantai, Reza pun belum
mengungkapkan perasaannya. Padahal Naila tiga hari lagi berangkat keluar
negeri. Enam jam mereka bersama di pantai, akhirnya mereka memutuskann untuk
pulang. Berjalan perlahan beriringan, tangan mereka mulai bersentuhan. Bagaikan
seseorang yang telah menemukan bagian dari tulang rusuknya. Gemuruh di dada
Reza semakin mengeras. Tak hiraukan lautan manusia melihat mereka tetap
berpegangan tangan, bagai tak ingin kehilangan satu sama lain. Mereka berjalan
perlahan bersama. Terasa sebentar mereka bersama, tetapi waktu telah berbicara.
Memberi pesan untuk segera pergi. Dengan perginya mereka dari pantai. Maka
Naila pun pergi keluar negeri tanpa satu pun kata dari perasaan Reza yang
terucap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar